Wah, Ngeri! Ternyata Bisnis MBG dari 1 Dapur Bisa Menghasilkan Rp150 Juta per Hari

Daftar Isi

 

Tanyaislamyuk - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) awalnya digadang-gadang sebagai solusi mulia: memberi asupan gizi bagi masyarakat sekaligus menekan angka stunting. Namun di balik jargon “demi rakyat”, perlahan muncul fakta yang bikin dahi berkerut.

Bayangkan ini: satu dapur MBG saja bisa meraup omzet hingga Rp150 juta per hari. Angka yang bukan main, bahkan untuk ukuran usaha kuliner kelas menengah ke atas.

Hitung-hitungan yang Bikin Merinding

Mari kita buka hitungannya secara kasar.
Jika satu porsi MBG dihargai sekitar Rp15.000–Rp20.000 dan satu dapur melayani 7.000–10.000 porsi per hari, maka omzet harian bisa menembus angka fantastis:

Rp15.000 x 10.000 porsi = Rp150 juta per hari.

Itu baru satu dapur. Belum jika satu pengelola memegang beberapa dapur sekaligus.

Dari Program Sosial ke Mesin Uang

Di titik ini, MBG tak lagi sekadar program sosial. Ia berubah menjadi ladang bisnis dengan arus uang super deras, dijamin oleh anggaran negara, minim risiko rugi, dan permintaan yang “dipaksa” oleh kebijakan.

Pertanyaannya:

  • Siapa yang benar-benar diuntungkan?

  • Rakyat penerima manfaat?

  • Atau segelintir pengelola dapur dan vendor?

Apalagi jika kualitas makanan tak sebanding dengan nilai anggaran. Porsi kecil, lauk seadanya, tapi tagihan ke negara tetap maksimal.

Transparansi Jadi Masalah Serius

Yang bikin ngeri bukan cuma angkanya, tapi minimnya transparansi.
Publik jarang tahu:

  • Siapa pemilik dapur?

  • Bagaimana proses penunjukannya?

  • Apakah ada konflik kepentingan?

  • Siapa yang mengawasi kualitas dan harga?

Tanpa pengawasan ketat, program MBG rawan berubah dari makan bergizi menjadi makan anggaran.

Rakyat Dapat Nasi, Elite Dapat Milyaran

Ironisnya, ketika rakyat hanya menerima satu kotak makan sekali sehari, ada pihak lain yang menikmati aliran uang ratusan juta — bahkan miliaran — secara konsisten.

MBG akhirnya memunculkan pertanyaan besar yang tak bisa dihindari:

Ini program gizi, atau proyek bisnis berkedok kepedulian?

Jika negara serius ingin menyehatkan rakyat, maka transparansi, audit terbuka, dan pengawasan publik adalah harga mati.
Jika tidak, jangan heran bila MBG dikenang bukan sebagai solusi stunting, tapi sebagai salah satu proyek paling “mengenyangkan” bagi segelintir orang.




Posting Komentar